Sabtu, 04 Februari 2017

Pengalaman “Super Plus Plus” Membuat Rekening BRI

Hari Selasa tanggal 1 Februari 2017 saya bertekad untuk membuat sebuah rekening BRI di salah satu kantor cabang pembantu di daerah saya.

Sebelumnya, saya belum pernah sekalipun masuk ke kantor bank BRI dimanapun, pernah sih waktu kecil mengantar orang tua saya. Tapi sudah lama sekali. Orang Ndeso saya, hehehe.

Pengalaman “Super Plus Plus” Membuat Rekening BRI
Buku Tabungan dan Kartu ATM BRI Saya / © DEDISTYAWAN.COM


Tanpa pengetahuan sedikit pun, saya pun pergi kesana bersama seorang teman saya yang riwayat hidupnya sama dengan saya. Tidak pernah pergi ke bank.

Sampai di parkiran kantor BRI, dengan rasa sedikit ragu-ragu saya masuk ke dalam kantor tersebut. Berkas-berkas yang saya siapkan diantaranya:
1. KTP
2. Nomor Handphone
3. Uang setoran awal (saya bawa Rp 500.000 buat jaga-jaga saja, karena kata teman yang sudah buat setoran awalnya segitu).

Setelah masuk, saya tambah bingung lagi, karena saya tidak tahu dimana mengambil nomor antrian (saya lihat semua orang pegang). Mau tanya tapi malu, nggak nanya malah nanti malu-maluin.

Tapi saya nggak jadi bertanya karena malu. Quote,
“Malu bertanya, nggak jadi tanya.”

Kebetulan semua kursi nasabah sudah penuh, saya bersama teman saya pun Cuma berdiri disebuah mesin berbentuk balok berdiri.

Entah mesin apa itu saya tidak tahu. Saya pun cuma berdiri nggak jelas sambil cengar-cengir bersama teman saya tadi.

Sekitar seperempat jam saya berdiri nggak jelas...

Kemudian ada seorang masuk dan memencet mesin yang ada disebelah kami.

Dari situ saya tahu kalau itu adalah mesin tempat mengambil nomor antrian.

Dalam hati saya ya malu banget, karena sudah sedikit lama dilihatin orang-orang. Mungkin dalam pikiran mereka, “itu orang kok nggak jelas banget ya, dari tadi bengong berdiri begitu”.

Saya sudah mempunyai feeling, saya harus memencet mesin tersebut untuk mendapatkan nomor antri. Namun tidak, rasanya tangan ini sulit digerakkan untuk memencet mesin tersebut.

Akhirnya, keluarlah orang berbadan tegap, berbaju putih, dengan nama kalau tidak salah bapak Sugiharto. Saya lihat dari bawah keatas... dan di dada kirinya terdapat tulisan “Security”.

Akhirnya quote saya diatas hilang, saya menyetop bapak tersebut yang sedang berjalan ke arah pintu kantor.
“Pak maaf, saya mau buka tabungan pak. Bagaimana caranya?” tanya saya dengan nada malu-malu singa.

“Oh iya, mas dari mana?” tanya bapak tadi.

Dalam hati saya mencerna kata-kata tersebut... “dari mana saya? Maksudnya alamat atau apa sih?”

Kemudian bapak tadi menambahkan, “dari sekolah mana mas?”

Oh sekolah, “saya dari Madrasah Aliyah X pak, sudah punya KTP kok”.

“Oh baik mas” kemudian bapak itu memencet mesin tadi, dan keluarlah nomor antrean saya.

Dalam hati, kalau tahu kayak gitu mah saya sudah ambil dari tadi, persetan.

“Ditunggu ya mas, nanti ada panggilan sesuai nomor antrean”. Imbuh bapak tadi.

Setelah sekitar seperempat jam menunggu, akhirnya nomor yang saya pegang dipanggil oleh mbak-mbak CS yang syanteek, hohoho.

“Ada yang bisa saya bantu mas?” kata mbak CS tadi yang sesuai name-tag nya bernama Gita.

“Saya mau membuat rekening mbak” jawab saya.

Kemudian mbak tadi menanyakan saya apakah sudah mempunyai KTP apa belum.

“Sudah punya mbak” jawab saya dengan penuh semangat.

Kemudian saya memberikan KTP tersebut ke mbaknya, dan si mbak langsung memasukkan data sesuai KTP-El saya.
Selanjutnya, saya ditanya-tanya tentang data saya seperti nomor handphone, alamat, dan juga disuruh untuk mengisi sebuah formulir pendaftaran.

Setelah itu, mbak bilang, “mas, tolong dilepas...”.

Dalam hati, dilepas apanya ya...

“...pecinya mas tolong dilepas” sambung mbaknya.

Oh peci. Tapi saya cemas sekali. Saya kira nggak ada sesi foto begini. Rambut acak-acakan lagi.

Lalu, saya disuruh mbaknya untuk melihat kamera web-cam yang ada disebelah saya.

Data-data sudah siap, kemudian mbaknya bilang kepada saya.

“Mas kami pilihkan tabungan BRI Britama edisi Anak Muda ya mas, karena ini paling cocok untuk anak muda seperti mas yang kece badai. Kemudian sudah ada fasilitas mobile BRI, jadi mas nanti tidak perlu jauh-jauh ke ATM untuk mengirim, atau cek tabungan mas Dedi”.

Saya mengangguk saja, kemudian mbaknya bilang lagi, “ada yang ditanyakan lagi mas Dedi untuk produk BRI-nya?”.

Kemudian saya bertanya-tanya kecil tentang BRI-nya. Seperti bagaimana cara mengunakan mobile BRI, apa itu internet banking, apa itu ini itu dan lain-lain.

Si mbak juga bilang untuk setoran awal tabungan BRI Britama Anak Muda ini minimal Rp 100.000 dan akan dikenakan 5.000 per bulan untuk biaya administrasinya.

Selain itu, saya juga sudah mendapatkan kartu ATM yang didesain untuk anak muda, berikut buku tabungannya.
Lalu saya disuruh untuk memasukkan PIN saya. “silakan mas Dedi masukkan 6 digit angka untuk PIN ATM-nya.

Pastikan mas Dedi merahasiakan PIN-nya ya mas Dedi dan juga jangan pernah percaya pihak-pihak yang mengatasnamakan Bank BRI selain melalui pihak resmi Bank BRI ya mas.”

Alhamdulillah, rekening BRI saya sudah jadi.


KESIMPULAN

Untuk membuat rekening BRI tabungan Bank BRI Britama edisi Anak Muda hanya bersyaratkan:

1. KTP Elektronik
2. Uang setoran awal minimal Rp 100.000 (masuk ke rekening kita, jadi uang ini masih milik kita).
3. Nomor handphone yang aktif.
4. Data diri yang valid.

Untuk pembuatannya sendiri gratis, saya tidak ditarik biaya sepeserpun ketika daftar. ATM bisa langsung digunakan diseluruh ATM BRI di seluruh Indonesia.

Jumat, 03 Februari 2017

Indah Cuy Air Terjun Macan Mati dan Sumenep, Batealit, Jepara

Untuk mengisi liburan, saya bersama 3 teman saya merencanakan untuk pergi ke Air Terjun Macan Mati dan Sumenep, Batealit, Jepara.

Air Terjun Macan Mati
Air Terjun Macan Mati

Tepat pada tanggal 25 Desember 2016 kemarin, saya melakukan perjalanan yang kurang lebih 21 KM dari rumah saya.

Perjanjian kita berangkat pada pukul 8.00 namun apadaya, molor pun terjadi hingga satu jam. Pukul 9.00 kita baru berangkat menuju air terjun tersebut. (Haha, kebiasaan...)

Sempat nyasar dan salah jalur sekitar sejam, kita pun kebingungan karena mengambil jalur yang salah. Malahan, kita itu menuju jalan yang sama, hanya saja itu harus muter-muter dulu. Haduh... nasib... nasib.

Mau cari di Google Maps sinyal nggak ada (daerah plosok). Jadinya kita pun hanya mengandalkan mulut kita... ya, tanya ke orang.

Kemudian masih bingung lagi kita karena makin nyasar. Beruntung, tiba-tiba saya mendapatkan jaringan 4G LTE di daerah plosok. Hmm...

Akhirnya, saya pun sudah mendapat jalur yang benar dan tinggal mengikuti arahan Google Maps.

Buat teman-teman yang mau menggunakan Google Maps juga ini saya kasih koordinatnya.

Setelah berkilo-kilo meter kita tempuh, akhirnya kita sampai di penitipan motor paling bawah di kawasan air terjun tersebut. Dengan merogoh kocek Rp 3.000 saja motor Anda sudah aman, hehe.

Sebenarnya untuk menuju keatas menggunakan motor masih bisa, karenan nanti bakal ada penitipan motor diatas.

Namun sepakat, kita akan jalan kaki menuju Air Terjun Macan Mati dan Sumenep.

Pertama kita berjalan dengan jalan batu-batuan, karena selain buat pengunjung juga ada truk batu yang lewat sini.

Akhirnya kita sampai di gerbang dan disini kita harus membayarkan retribusi Rp 2.000/orang.

Kemudian kami melanjutkan perjalanan kami melewati daerah persawahan dahulu. Kemudian melewati hutan karet dan di sini konturnya mulai naik turun.



Minum seteguk air, kemudian kami melanjutkan ke daerah yang lebih ekstrim lagi, haha.

Saat berjalan kami sempat bertemu dengan segerombolan anjing dan para pemburu. Sumpah saya takut sekali dengan anjing -_-

Berjalan... Berjalan... Akhirnya kita sampai di Air Terjun Macan Mati. Air terjun ini merupakan air terjun yang ada di paling bawah dari kawasan air terjun itu.



Tak mau melewatkan momen ini, kami tak lupa mengabadikan foto disana.


Tapi yang membuat saya bertanya-tanya adalah nama air terjunnya, "Macam Mati". Mungkin dulu disana ada macan yang lagi mandi terus mati ya, hahaha, ngawur.






Setelah puas disana. Kami melanjutkan ke tujuan utama kami, Air Terjun Sumenep yang berjarak kurang lebih 2 KM (kata orang-orang sih, tepatnya saya belum tahu) dari Air Terjun Macan Mati.

Lanjut.. lanjut... Sampai lah kami di Air Terjun Sumenep. Sumpah lelah kami hilang dan terbayarkan disini.

Biar badan makin seger kami juga mandi disana, hahaha.

(Foto air terjun Sumenep, Batealit, Jepara, Jawa Tengah).





Bertemu dengan teman-teman daerah lain, kita pun sempat bercakap-cakap. Katanya diatas lagi ada yang lebih joss.

Setelah memuaskan diri di Air Terjun Sumenep, kita pun melanjutkan ke puncaknya... namun apadaya ditengah perjalanan kita ke habisan tenaga. Akhrinya kita turun lagi, hahaha.

Dibawah, kami sholat di musholla kecil yang dibuat warga setempat dan dilanjutkan dengan membeli minuman untuk mengembalikan perjalanan.


Itulah perjalanan kami, saya menulis cerita ini sambil menikmati kaki yang "mrengkel" hahaha.

----------
Air Terjun Macan Mati dan Air Terjun Sumenep, Batealit, Jepara, Jawa Tengah.
#MTMU (our group name):
- Dedi Styawan
- Dony Maulana
- Fiqi Rohmansyah
- Syaiful Mujib

Ahad, 25 Desember 2016. 8.00 - 15.30 WIB.

*Awalnya mau saya publish Desember lalu, tapi nggak sempet, hehe.

Selasa, 20 Desember 2016

Libur, Libur, Liburan

Libur sudah dimulai senin kemarin (19 Desember 2016), dan ya... selamat datang liburan.

Seperti kata sebuah pantun, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian, haha.

Sebelum liburan, saya menempuh perang selama 9 hari. Hari pertama dimulai dengan tes baca kitab Bulughul Marom. Untungnya, kali ini tidak mendapatkan pengetes yang killer :3



Untungnya saya maju diawal tes, jadi pengetes belum naik darah, hahaha.

Berikut ada cuplikan video ketika pengetes (KH. Ahmad Arwani) sedikir naik darah.


video

Kemudian dilanjutkan dengan semester seperti biasanya.

Kemudian class meeting selama 2 hari.

"Ini nyeritain apaan anying, nggak jelas amat"

Santai bro :'D

Kemudian Minggu kemarin, maulidan kemudian dilanjutkan dengan pengambilan raport.

Tahu kan saya yang mana :v
Yang tampil beda :3
Selamat liburan... 14 hari tanpa KBM ^_^

Gaje sumpah...

Sabtu, 03 Desember 2016

Kopi Berbahaya!

Kopi Berbahaya!


Minum kopi bagi saya merupakan kebutuhan yang “wajib” dipenuhi. Saya merasa kalau saya minum kopi itu ada ide tersendiri yang muncul dari otak kecil saya.

Namun, kadang saya merasa serik (benci) dengan kopi, karena saya terasa diancam keselamatan saya. Hal itu terjadi semenjak...


TANGAN SAYA KETUMPAHAN KOPI PANAS MENDIDIH!!! SERASA KENA NALPOT MOTOR!! AAA!!


Aaa Panas!!!

Kronologinya begini.

Setelah pulang sekolah saya sudah merencanakan kerjaan-kerjaan saya. Rasanya pengen minum kopi gitu. Nah, ketika kopi sudah siap saya bawa ke kamar, ketika sedang berjalan... kopi itu kocar kacir ke tangan. Padahal saya buat kopi itu dengan air mendidih.

AAAAAAAAAA!!!!!!

Jumat, 18 November 2016

The Miracles of Al-Qur’an

The Miracles of Al-Qur’an


Setiap hari Jumat, saya menjalani rutinitas penting saya, yaitu nyetriko (nyetrika). Entah pagi, siang, ataupun sore hari, saya harus melakukan hal itu. Hal ini sudah menjadi kebiasaan saya sejak kelas X MA.

Kebetulan tadi setelah nyetrika dan mandi, (sore hari Jumat,  18 November 2016) saya mengunjungi rumah Bulek saya yang kebetulan lahiran 2 hari lalu. (Note: Bulek adalah?)

Senang sekali saya kalau melihat bayi, kecil, imut dan gemesin, hahaha.

Kebetulan ketika sedang berjalan ke rumah bulek saya, ada ponakan kecil umurnya 3 tahunan yang sedang bermain dihalaman rumanya yang bersampingan dengan rumah saya.

Naura, ayo ke rumahnya bulek, kita lihat mbak cilik kamu...” ajak saya ke ponakan yang tadi main.
Yok...” jawabnya singkat, jelas dan padat.

Kemudian saya langsung gandeng ponakan saya tadi ke rumah bulek. Jalan kaki karena rumahnya hanya nyebrang jalan.

Sampai di halaman rumah bulek, terlihat kakek kami yang duduk diteras rumah bulek.

Tuh, ada kakek. Sapa-sapa...” suruh saya kepada ponakan kecil untuk menyapa kepada kakek kami. Hal ini saya ajarkan kepada ponakan-ponakan kecil saya biar akrab sesama keluarga, hehe.

Setelah ponakan saya menyapa dan salim kepada kakek, kita berdua bergegas masuk ke rumah bulek.
Terdengar suara bayi yang sedang nangis, dan itu adalah bayi bulek saya.

Tuh kan gara-gara kamu dia jadi nagis, hehehe” gurau saya kepada ponakan kecil tadi.

Dari kamar, bulek bilang “Ayo masuk, ini lho mbak cilik kamu” ujar bulek dari kamarnya.

Sambil berjalan ke kasur, terlihat bulek ambil HP-nya dari meja dan kemudian memutar murrotal Al-Qur’an. Subhanallah... bayi bulek tadi langsung diam dan tenang. Dalam hati saya yang takjub akan kebesaran Gusti Allah SWT.

Setelah menyaksikan hal tersebut, saya ingin mencium bayinya, tapi....

Kampret banget, dia malah ngeber (pipis di celana), tahu kali ya nih bayi mau gue cium... main pipis aja”. 

Jumat, 11 November 2016

The Power of Emak-Emak

The Power of Emak-Emak


Sudah tidak menjadi hal yang aneh lagi kalau ibu-ibu itu orang yang super. Kalau ibarat negara, ibu-ibu itu merupakan sebuah negara adidaya, adikuasa, super power dsb. yang tak takut dengan apa saja. Hmm...

Nah, di bawah ini merupakan kejadian-kejadian aneh yang pernah saya alami, dan ini terkait dengan ibu-ibu, ssst... Baiklah, saya mulai dari ceritanya.


Ibu-Ibu Pemotong Jalan

Tit tit tit... suara klakson motor teman saya yang sudah menunggu di depan rumah.

Iya bentar-bentar, tunggu gue!” teriak saya dari dalam rumah. Sambil pakai kaos oblong saya keluar rumah, “Yok” ujar saya ke teman yang sudah menunggu tadi.

Mau kemana sih, pagi-pagi amat?” tanya saya ke teman saya.

Biasalah, ngeprint tugas-tugas gue” jawab teman saya.

Kebetulan jarak tempat ngeprint denga rumah saya tidak terlalu jauh, jadi kita jalan slow aja. Tapi ketika bertemu dengan pertigaan, dari kejauhan terlihat seorng ibu-ibu yang mau belok, tapi kita nggak tahu mau belok kemana ibu-ibu tersebut. “Hati-hati nang (panggilan teman saya)”.

Tak pasang lampu sen, tak pencet klakson tiba-tiba... set... ibu-ibu tadi potong jalan. Kaget, teman saya langsung menyalakan klaksonnya agak panjang “piye tah buk, kok gak ati-ati!!?? (gimana sih bu, kok tidak hati-hati)” teriak saya. Tapi respon ibu-ibu lain, dia malah marah-marah.

kue piye si nang, kok rak gelem ati-ati, aku malah arepe mok tabrak, mandek sek lek neng enggok-enggokan (gimana sih kamu, nggak mau hati-hati, kamu hampir saja menabrak, berhenti dulu kalau di belokan)” marah ibu-ibu itu.

Nah, lho... seharusnya kan kita yang bilang gitu, dasar ibu-ibu” ujar saya dalam hati.


Nasehatin Diri Sendiri


walhamdulillahirabbil’aalamiin...” terdengar do’a hendak pulang sekolah dari kantor. Setelah berdo’a dan guru saya menutupnya dengan salam, saya langsung nyamperin teman saya yang kebetulan jalan pulangnya melewati rumah saya... mau nebeng, hehehe.

Kue langsung muleh tha? Aku bareng kue yo? Aku rak nggowo motor (Lo langsung pulang? Gue ikut ya, gue nggak bawa motor)” pinta saya .

Ayo si... (ya sudah ayo)” jawab teman saya dengan singkat, jelas, dan padat.

... tapi kue sing ngarepi yo!? (tapi kamu yang didepan ya)” tambah teman saya sambil memberikan kunci motornya.

Setelah mengambil motor di parkiran, kita langsung cabut pulang. Kebiasaan saya, kalau pakai motor orang, saya mengendarainya santai dan pelan-pelan. Resiko gede bro, apalagi masih boncengin anak orang.

Diperjalanan sambil ngobrol, ngobrol kecil, terlihat dari kaca spion seorang ibu-ibu yang menbonceng anaknya dari belakang.

Kebetulan saat itu, saya ngendarainya pelan banget, sekitar 20 – 40 KM/jam saja. Melirik ke kaca spion, terlihat ibu-ibu itu hendak menyalip, saya cuek aja. Tapi ketika ibu-ibu itu persis di samping saya, dia berkata “numpak motor kok ngeleyang (naik motor kok ngeleyang)”.

Saya pun bertanya-tanya, “maksudnya gimana sih” tanya saya pada teman.

Entahlah, nggak tahu gue wkwkwk” jawab teman saya sambil ngakak.

Sambil berjalan saya sambil mencerna kata-kata ibu-ibu tadi, dan saya menarik kesimpulan... mungkin saya terlalu lamban jadi ya, dan pada intinya ibu-ibu tadi mencaci saya. -_- Oh iya, sekarang ibu-ibu tadi ada di depan saya.

Sambil sedikit kesal dalam hati, saya pun enggan untuk menyalip kembali ibu-ibu itu, dan yang bikin kaget... ibu-ibu itu belok tanpa lampu sen dan tiba-tiba banget... hampir saja saya menabraknya dari belakang.

Woy bu! Pasang lampu sen dong kalau mau belok...!!! Anjer!! Nasehatin orang kok dirinya sendiri begitu” teriak dan marah saya... dalam hati, hahaha. Mana berani saya neriakin ibu-ibu seperti itu, dijalan lagi, pakai seragam sekolah lagi. Untung saya sabar, kalau enggak sudah saya tabrak dari belakang ibu-ibu itu. -_-


Nongkrong Tengah Jalan


Ceritanya Coming soon!


Disclaimer: Didalam post ini penulis tidak bermaksud untuk menjelek-jelekkan, melecehkan, memojokkan, underestimate suatu pihak. Hanya hiburan bro! Santai.

Rabu, 02 November 2016

Padat Merayap

Ketika duduk dikelas X, saya ingin cepat-cepat untuk duduk dikelas XII. Pulangnya cepat, tidak seperti kelas X yang wajib mengikuti tutorial pelajaran. Namun semua itu hanyalah mitos, semenjak duduk dikelas XII, saya sekarang malah ingin kembali ke kelas X yang memang pulangnya sorean dikit.

Dikelas XII ini, saya di sibukkan dengan banyak pekerjaan yang harus saya alami. Dalam hati berkata, "Ternyata begini ya kelas XII, memang sih pulangnya lebih cepat, tapi pulang cepat itu untuk kerja lagi di rumah" :(

Pekerjaan sekolah yang saya dapatkan malahan semakin banyak dikelas XII ini, diantaranya:

1. Scientific Wrting (Karya Tulis Ilmiah)
Inilah tugas yang harus saya selesaikan dikelas XII yang pertama kalinya. Alhamdulillah sidang sudah saya lakukan dan hanya revisi dari examiner sedikit saja. Namun nilainya kurang memuaskan, tetapi nggak apa-apa lah, namanya juga baru belajar.

Dalam karya tulis ini saya mengangkat pelajaran seputar IPS saja (ekonomi, geografi, sosiologi), namun pilihan saya jatuh kepada ekonomi, padahal nggak terlalu pintar.

Judul yang saya ambil adalah The Utilization of E-Commerce for Micro Enterprises. Awalnya sih ragu-ragu bakal bisa garap karya tulis dengan judul ini atau tidak. Revisi judul sekali, dimana judul pertama saya cakupannya sangat luas dan kurang spesifik. Alhamdulillah, tanggal 13 Oktober 2016 kemarin kalau tidak salah, sidang terlaksana.


Scientific Writing: The Utilization of E-Commerce for Micro Enterprises

Scientific Writing: The Utilization of E-Commerce for Micro Enterprises

Scientific Writing: The Utilization of E-Commerce for Micro Enterprises

2. Pelajaran Sedikit Tapi Banyak Tugas
Kelas XII atau kelas tiga itu memang pelajarannya lebih sedikit daripada adik kelas, namun tugas yang didapatkan kurang setimpal.

Jika dihitung-hitung, hampir setiap hari mendapatkan tugas. Belum lagi PR, belum pemadatan pelajaran.

Sampai rumah pukul 16.00 kurang lebih, makan istirahat bentar, eh sudah mau maghrib. Habis maghrib, eh ada tugas dan PR. Eh, udah malam, saatnya tidur. Bangun, eh sekolah...

begitu siklus hidup saya sekarang. Gimana dengan kamu? Iya kamu :3