Kerja Bakti dan Takbiran

Dua hari sebelum hari raya Idul Adha, gue sudah mendapatkan kabar dari temen gue kalau H -1 sebelum hari tersebut tiba. Instruksinya sih pukul 7.00, namun seperti tahun-tahun sebelumnya gue pasti telat karena bangun kesiangan, dan itu terjadi juga di hari raya Idul Adha kali ini.

Malam hari sebelum kerja bakti, gue udah berniat di dalam hati kalau besok nggak boleh yang namanya telat. Gue malu dilihatin sama ustadnya kalau telat, terlebih lagi gue jarang ikut ngaji. Ya begitulah.

Tak sesuai ekspektasi, hari itu dimana gue kerja bakti gue bangun setengah delapan, alhasil ya gue telat lagi.

Saat itu saat gue masih lelap dan bermimpi, tiba-tiba pakdhe gue bangunin gue kalau mau meminjam motor buat pergi, dan gue terbangun saat itu juga. Dalam hati gue berkata, eh anjang, hari ini ada kerja bakti musholla.

Sontak gue langsung cuci muka dan berangkat ke musholla buat kerja bakti. Anyway, musholla gue digunakan untuk sholat ied juga karena masjid tempat gue suka overload, penyebabnya adalah orang perantauan yang pulang kampung. Tau sendiri lah gimana keadaannya.

Sampai di musholla, gue langsung nyusul temen-temen gue yang membersihkan selokan, ya gue nyusul aja gitu. Setelah ngobrol-ngobrol dikit, kita bagi tugas. Saat itu ada 4 anak seumuran gue (tua, muda dikitlah) dan beberapa bocah. Gue kebagian dalam musholla dan mereka masih setia dengan selokannya.

Gue nggak mau kalau para bocah Cuma main-main aja, jadi gue suruh mereka buat bantuin gue untuk menyapu dan mengepel bagian dalam musholla.

Waktu terus berjalan dan tugas kita selesai, sekarang tinggal bagian luar musholla. Paling males bersihin bagian teras, karena dalam keadaan puasa, terik dan badan sudah lemes semua. Tapi kita tetep semangat untuk membersihkan rumah ibadah tersebut.

Pukul 11.00 semua yang ikut kerja bakti sudah dilanda kelaparan, lemas , dan lesu. Akhirnya kita istirahat sebentar karena ustadnya juga lagi pergi.

Dari jauh… terlihat orang memakai sarung dan memakai kupluk, dan itu adalah ustad kita. Jadi kita sok kerja lagi dengan semangat gitu, haha.

Oh iya, ngomongin soal bocah-bocah yang ikut kerja bakti, tujuan utama mereka adalah bermain. Sama sih, waktu kecil gue juga gitu, niat kerja bakti cuma buat main air dan seluncuran di lantai musholla yang masih basah. Gue nggak tahu, permainan berseluncur di lantai musholla itu nggak ada tandingannya. Terlebih lagi kalau banyak orang gitu, dulu gue sih main balapan sama temen-temen gue.

Jadi, kita di bagi kedalam beberapa regu, setiap regu ada dua orang yang mempunyai tugas sendiri-sendiri. Pertama adalah orang yang tiduran, yang keduan adalah orang yang menarik kaki dari orang yang tiduran tadi, jadinya ekstrem gitu.

Pernah kejadian gue terlalu ngebut seluncurnya, jadi gue jatuh ke bawah gitu. Bahasa sini menyebutnya keloncok. Nah, kalau sudah capek, dulu gue sebagai bocah-bocah buka baju dan ngeringin badan. Karena kalau nggak kering dirumah bisa kena semprot sama emak gue.

Balik lagi ke kerja bakti tempo hari, setelah selesai kitapun langsung pulang kerumah masing-masing. Dan sampai rumah kita langsung tidur pulas… sampai sore.

Sore hari, gue langsung mandi dan persiapan untuk pergi ke makam. Gue nggak tahu persis kenapa setiap mau lebaran baik Idul Fitri maupun Idul Adha, adat ditempat gue adalah ke makam orang dekat kita. Sudah adat dan melekat dimasyarakat.

Sepulang dari makam, gue nggak langsung kerumah, tapi gue cari es untuk berbuka nanti. Kebetulan saat itu gue ditemenin adik gue (keponakan), enggak tahu kenapa minuman yang 2 hari sebelumnya gue beli seharga 2 ribu naik menjadi 5 ribu, sumpah gue kaget. Untung gue bawa duit lebih jadi gue nggak disuruh cuci piring disana.

Malam harinya, adalah malam takbiran. Dimana gue semalaman di musholla untuk takbiran bersama temen-temen gue yang tadi pagi kerja bakti. Didalam acara tersebut, pasti… ada bocah-bocah yang kerjaannya main.

Takbiran Coy

Walaupun ikut takbiran, paling sebentar terus main lagi. Namun, ketika si bocah tersebut sedang bertakbiran, mereka berebutan mikropon dan akhirnya mikroponnya rusak. Hmm, dasar bocah.

Mikropon Rusak
Ini nih, mikroponnya.

Untungnya salah satu temen gue ada yang bersekolah jurusan eklektronik, jadi dia bisa benerin mikropon yang rusak tadi. Untuk pak Ustadnya nggak tahu kalau mikroponya rusak. Padahal mikropon tersebut masih baru, belum ada sebulan.

Setelah takbiran-takbiran-takbiran, waktu sudah menunjukkan tangah malam, dan akhirnya gue dan juga yang lain tidur di musholla. Pukul 3.50, kita terbangun karena ada orang takbiran (orang tua) dan gue yang masih ngantuk beratpun pulang untuk tidur lagi.

Sampai rumah gue nggak bisa tidur, malahan ketika mau mandi sekitar pukul 5.30, gue ketiduran dan hampir saja nggak ikut sholat ied.

Dari luar kamar terdengar kakak gue teriak, “lo bangun nggak, apa gue siram” kurang lebih begitulah bahasa Indonesia kasarnya (dalam sehari-hari gue pakai bahasa jawa). Sontak, gue kaget dan lihat jam, ternyata sudah menunjukkan puku 6.00.

Akhirnya, gue mandi super kilat dan kemudian pergi sholat ied. Karena musholla deket rumah gue udah telat, jadi terpaksa gue pergi ke masjid. Apesnya lagi disana udah penuh. Akhirnya gue menunggu pengurus masjid buat gelar karpetnya dijalan. Begitulah ceritanya.

Bagikan melalui:

Add Comment